JAMBI28.TV, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) menginisiasi pembentukan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), sebagai langkah strategis untuk memperkuat inovasi dan pengembangan talenta digital di sektor jasa keuangan nasional.
Inisiatif ini ditandai dengan penyelenggaraan Digital Talenta Berdaya dan Berkarya (DIGDAYA) x Hackathon 2026 bertema “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital”, yang digelar secara hybrid, di Kantor Bank Indonesia, Senin (23/2/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi, serta jajaran Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia.
Friderica dalam keterangan resminya, Selasa (24/2/2026), menegaskan pentingnya sinergi regulator dalam membangun generasi muda, yang mampu menjadi motor penggerak inovasi digital di masa depan.
Menurutnya, peserta dari seluruh Indonesia akan melalui proses kaderisasi, pembinaan, dan pelatihan untuk melahirkan solusi teknologi yang aplikatif dan berdampak nyata bagi sektor jasa keuangan.
Lebih lanjut, iya mengatakan bahwa, transformasi digital telah memberikan kontribusi besar terhadap inovasi bisnis dan perluasan inklusi keuangan.
Namun, penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan pelindungan konsumen tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan ekosistem digital keuangan.
Selain itu, mitigasi risiko akibat percepatan digitalisasi juga terus diperkuat melalui kebijakan dan infrastruktur pelindungan masyarakat, termasuk pengembangan Indonesia Anti-Scam Center.
PIDI diharapkan menjadi wadah strategis untuk memastikan inovasi di sektor jasa keuangan tetap mengedepankan tata kelola yang baik, manajemen risiko yang kuat, serta pelindungan konsumen yang optimal.
Melalui DIGDAYA, peserta mendapatkan penguatan melalui program mentoring, pembekalan, serta jejaring dengan industri agar solusi yang dihasilkan siap diimplementasikan dan memiliki daya saing.
Sementara itu, Hackathon menjadi sarana eksperimen inovasi untuk menjawab berbagai tantangan nasional melalui solusi berbasis teknologi secara kolaboratif dan terstruktur.
Program ini menjadi bagian dari upaya bersama regulator dan industri dalam memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang inklusif, aman, dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Seluruh inovasi yang lahir diharapkan dapat diuji oleh pasar, berkontribusi bagi industri, serta memberikan dampak nyata bagi sistem keuangan digital Indonesia.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua ASPI Santoso Liem, Ketua Dewan Kehormatan AFTECH Harun Reksodiputro, Ketua Asosiasi APUVINDO Ari Rizaldi, Ketua Umum YPPI Priyanto Budi Nugroho, serta Direktur Utama LPPI Heru Kristiyana.
Sebanyak 1.300 peserta yang berasal dari mahasiswa berbagai universitas, pesantren, komunitas digital dan inovasi, serta pelaku usaha jasa keuangan ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Penyelenggaraan inisiasi PIDI sekaligus menandai dibukanya pendaftaran kompetisi Hackathon 2026, yang terbuka bagi masyarakat umum dengan kategori profesional dan mahasiswa. Periode pendaftaran berlangsung mulai 23 Februari hingga 27 Maret 2026. (Agus)













































