JAMBI28.TV, JAKARTA – Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan telah membayarkan biaya pelayanan kesehatan sebesar Rp190,3 triliun. Anggaran tersebut digunakan untuk menanggung layanan kesehatan primer di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga pelayanan rujukan di rumah sakit.
Dari total pembiayaan tersebut, lebih dari Rp50,2 triliun dialokasikan untuk menangani 59,9 juta kasus penyakit kronis, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hati, thalassemia, dan hemofilia.
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menyampaikan bahwa penyakit jantung menjadi kasus terbanyak dengan total 29,7 juta kasus dan biaya mencapai Rp17,3 triliun. Disusul gagal ginjal dengan 12,6 juta kasus yang menyerap biaya Rp13,3 triliun, serta kanker sebanyak 7,2 juta kasus dengan total pembiayaan Rp10,3 triliun.
“Dari tahun ke tahun, biaya yang dibayarkan untuk penyakit kronis terus meningkat. Padahal, sebagian besar penyakit tersebut sebenarnya dapat dicegah sejak dini dengan penerapan pola hidup sehat secara konsisten,” ujar Rizzky, Jumat (23/1).
Menurutnya, penyakit kronis erat kaitannya dengan gaya hidup. Untuk menekan risiko tersebut, BPJS Kesehatan menginisiasi program Gerak 335, yakni aktivitas fisik berupa jalan santai selama tiga menit, dilanjutkan jalan cepat selama tiga menit, dan diulang sebanyak lima kali hingga mencapai total 30 menit. Kegiatan ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa memerlukan alat khusus.
Selain aktivitas fisik, Rizzky juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan Skrining Riwayat Kesehatan yang tersedia melalui Aplikasi Mobile JKN, WhatsApp PANDAWA di nomor 08118165165, website resmi BPJS Kesehatan, atau langsung di FKTP.
“Proses skrining hanya membutuhkan waktu sekitar 5–10 menit, namun manfaatnya sangat besar. Dengan skrining, masyarakat bisa mengetahui apakah memiliki risiko penyakit kronis atau tidak, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih dini,” jelasnya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Prof. Trina Astuti, mengatakan bahwa penyakit kronis umumnya memerlukan pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu, upaya pencegahan melalui pola hidup sehat menjadi sangat penting.
Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 pada 25 Januari, Prof. Trina mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Empat Pilar Gizi Seimbang. Pilar tersebut meliputi konsumsi makanan beragam, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta menjaga berat badan tetap normal.
Ia juga memperkenalkan panduan makan “Isi Piringku” sebagai acuan pemenuhan gizi harian. Setengah piring diisi sayur dan buah, seperempat piring karbohidrat, serta seperempat piring lauk pauk berupa protein hewani atau nabati.
“Selain itu, konsumsi gula, garam, dan lemak juga harus dibatasi. Dalam sehari, gula maksimal empat sendok makan, garam satu sendok teh, dan lemak lima sendok makan,” ujarnya.
Prof. Trina menambahkan, masyarakat juga perlu membiasakan diri membaca label gizi pada kemasan makanan agar lebih bijak dalam memilih asupan.
“Sehat dimulai dari isi piring, dilanjutkan dengan aktivitas fisik dan pemantauan berat badan secara rutin. Tiga kebiasaan sederhana ini sangat efektif untuk mencegah penyakit kronis,” pungkasnya. (Agus)













































