JAMBI28.TV, 10 Februari 2026, JAMBI – Pemerintah Kota Jambi kini menjadikan generasi muda dan komunitas sebagai motor utama pembangunan dalam mewujudkan visi “Kota Jambi Bahagia” yang inklusif dan berkelanjutan. Strategi pembangunan berbasis masyarakat ini disampaikan oleh Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, saat menjadi narasumber kuliah praktisi di Universitas Jambi pada Selasa (10/2/2026). Forum bertema “Kota Jambi Bahagia: Menata Kota dari Ruang Imajinasi dan Realisme Anak Muda” ini menjadi ruang dialog krusial antara pemerintah dan mahasiswa untuk membahas peran generasi muda dalam menata kota.
Diza menekankan bahwa kebijakan pemerintah harus selalu sinkron dengan aspirasi warga, terutama mengingat dominasi populasi generasi muda di Jambi. Ia memaparkan bahwa pendekatan pembangunan inklusif telah tertuang dalam 11 Program Unggulan, termasuk inisiatif 100 Juta per RT yang melibatkan peran aktif pemuda dan tokoh masyarakat di lingkungan masing-masing. “Kota Jambi dengan jumlah penduduk sekitar 641 ribu jiwa didominasi generasi muda. Karena itu, kebijakan pemerintah harus relevan dengan kebutuhan dan aspirasi mereka,” ujarnya.
Langkah konkret Pemkot Jambi terlihat dari optimalisasi berbagai ruang publik, seperti Banjuran Budayo dan Festival Terminal Rawasari, yang kini dihidupkan sebagai wadah bagi anak muda, pelaku UMKM, dan seniman. Di sektor lingkungan, pemerintah juga mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui skema Operator Pengumpul Sampah Berbasis Masyarakat (OPBM). Inovasi ini membuktikan keseriusan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi dan penataan kota berbasis komunitas dari tingkat kelurahan.
Terkait pengembangan potensi diri, Diza mendorong mahasiswa untuk aktif berorganisasi sebagai wadah pembentukan karakter, keterampilan, dan kepemimpinan. Ia juga menegaskan bahwa keterbatasan sumber daya alam di Jambi menjadi motivasi bagi pemerintah untuk mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan daerah. “Dengan berorganisasi, anak muda ditempa untuk memiliki skill, mental, dan kemampuan memimpin. Program yang menyasar anak muda pasti berdampak pada penguatan komunitas, pengembangan kota, hingga kesehatan fisik dan mental,” tambahnya. Ia juga menegaskan, “Kota Jambi tidak memiliki sumber daya alam yang besar, sehingga fokus kami adalah membangun SDM. Anak muda harus berani menyampaikan perspektif tentang masa depan mereka, dan pemerintah bertugas menerjemahkan ide-ide itu menjadi program nyata,” tegasnya.
Pihak akademisi, yang diwakili oleh Ketua Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi, Rio Yusri Maulana, menyambut baik kolaborasi praktis ini karena memberikan wawasan nyata bagi mahasiswa mengenai dinamika kebijakan publik. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda ini diharapkan mampu memastikan pembangunan Kota Jambi tetap berkelanjutan dan tepat sasaran. Melalui pendekatan berbasis komunitas yang kuat, visi kota yang inklusif dan kreatif dinilai sangat mungkin untuk diwujudkan.














































