JAMBI28.TV, BATANGHARI – Program Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang diinisiasi pemerintah pusat untuk menciptakan lingkungan bersih dan tertata, belum sepenuhnya berjalan optimal di daerah. Di Kabupaten Batanghari, Jambi, masih ditemukan sampah berserakan di sejumlah titik.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan, seperti di kawasan depan BRILink BRI Muara Bulian serta di sekitar Gedung Pemuda. Sampah tampak menumpuk dan berserakan, mencerminkan belum maksimalnya implementasi program kebersihan tersebut.
Gerakan Indonesia ASRI sendiri dirancang sebagai upaya kolektif untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Namun, realita di lapangan menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara kebijakan dan pelaksanaan.
Rendahnya kesadaran masyarakat menjadi salah satu faktor utama. Masih banyak warga yang belum memahami dampak jangka panjang dari kebiasaan membuang sampah sembarangan, serta kurang disiplin dalam pengelolaannya.
Selain itu, keterbatasan fasilitas juga turut menjadi kendala. Minimnya tempat sampah umum di sejumlah lokasi membuat masyarakat cenderung membuang sampah di sembarang tempat.
Padahal, Gerakan Indonesia ASRI diharapkan bukan sekadar program pemerintah, melainkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.
Sementara itu, Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam membenahi persoalan kebersihan secara menyeluruh. Dalam sambutannya pada acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Presiden menekankan pentingnya perbaikan dari tingkat desa hingga kota.
Ia juga menyoroti perlunya pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan, termasuk pengadaan alat pengolah sampah skala kecil di tingkat kelurahan dan kecamatan, sehingga sampah dapat ditangani langsung tanpa harus dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Selain itu, Presiden memperkenalkan gerakan “ASRI” sebagai bagian dari strategi nasional untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, bersih, dan indah. Program ini diharapkan mampu menjadi gerakan masif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah pun menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah, stakeholder, dan masyarakat luas. Tanpa partisipasi aktif warga, target menciptakan lingkungan bersih akan sulit tercapai.
Kondisi di Batanghari menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada kebijakan, tetapi juga pada perubahan perilaku dan penyediaan fasilitas yang memadai di lapangan. (Ilham)














































