JAMBI28.TV, JAMBI – Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) – saat ini disebut Area Preservasi Pantai Cemara – merupakan kawasan yang memiliki nilai ekologis yang sangat penting, tidak hanya sebagai habitat mangrove dan dataran lumpur (mudflat), tetapi juga sebagai lokasi persinggahan dan mencari makan bagi burung air migran yang melintasi Jalur Terbang Asia Timur–Australasia (East Asian-Australasian Flyway/EAAF).
Setiap musim migrasi pada rentang waktu Agustus hingga April, Pantai Cemara Jambi menjadi tempat untuk mencari makan (foraging) dan istirahat (roosting) bagi ribuan individu burung pantai bermigrasi.

Koordinator Coastal Wetland SCS-SAP Project, PKSPL IPB University, Eko Budi Priyanto mengungkapkan hasil penelitian Tim Pokja KEE pada 2025, terpantau lebih dari 1.000 burung dari 24 jenis burung pantai bermigrasi di lokasi ini pada satu waktu.
“Kami juga mencatat ada tiga jenis burung pantai bermigrasi yang berstatus terancam atau Endangered (EN) berdasarkan kriteria daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di antaranya jenis trinil nordmann (Tringa guttifer), gajahan timur (Numenius madagascariensis), dan kedidi besar (Calidris tenuirostris),” jelas Eko.
Eko menambahkan bahwa lokasi penting ini tidak saja dilindungi untuk keanekaragaman hayati, namun memiliki peran strategis dalam mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir serta sebagai penyangga kehidupan (menjaga pasokan air, mencegah bencana alam, mengurangi dampak bencana alam, serta mengurangi dampak perubahan iklim). Hal ini sangat penting dalam menjaga fungsi ekologis kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang.
“Karena nilai penting inilah, maka Pembentukan Forum Kolaborasi Pengelola Ekosistem Esensial Pantai Cemara ditetapkan melalui SK Gubernur Jambi Nomor: 398/Kep.Gub/Dishut-3.3/2019 tanggal 18 Maret 2019 untuk pengelolaan di masa depan,” tambah Eko.

Untuk mengidentifikasi capaian, pembelajaran, dan tantangan dalam implementasi pengelolaan, maka diadakan kegiatan penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) pada Selasa, 23 Juni 2026 di Jambi bersama dengan anggota forum kolaborasi pengelolaan KEE dalam kegiatan implementasi Proyek South China Seas Strategic Action Programme (SCS-SAP), kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup, United Nations Office for Project Services (UNOPS), dan PKSPL IPB University.
Pelaksana Tugas Kepala Seksi KSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Yuliana menjelaskan bahwa METT telah diaplikasikan di Indonesia untuk menilai efektivitas pengelolaan pada tingkatan situs atau lapangan. Selama dua hari (23 dan 25 Juni 2026), bersama dengan 31 orang dari perwakilan 22 anggota forum kolaborasi pengelolaan KEE terlibat dalam penilaian efektivitas pengelolaan berkelanjutan di masa depan,” jelas Yuliana.

METT versi 4.4 menjadi versi termutakhir yang dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi di era perubahan iklim. “METT kini menelusuri dimensi yang lebih kompleks. Termasuk di dalamnya penilaian terhadap habitat dan satwa indikator kunci, kompas ekologis yang menunjukkan apakah kawasan masih berada dalam kondisi sehat sebagai tempat singgahnya burung migran,” tambah Yuliana.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan solusi dan rekomendasi teknis serta mekanisme kerja sama berbagai pihak untuk pengelolaan lingkungan Area Preservasi Pantai Cemara serta kawasan penyangga Taman Nasional Berbak Sembilang secara berkelanjutan. (Tim)














































