JAMBI28.TV, JAMBI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membantu sebagian rumah tangga di Provinsi Jambi mengurangi beban pengeluaran pangan anak. Namun, dampaknya terhadap ketahanan ekonomi keluarga secara keseluruhan dinilai masih terbatas dan belum merata.
Temuan tersebut tercatat dalam penelitian Mustaqim Siga dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jambi, Kementerian Keuangan, yang diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan Volume 15 Nomor 03 edisi September 2026.
Penelitian yang melibatkan 54 rumah tangga penerima manfaat di Jambi itu menganalisis persepsi masyarakat terhadap dampak MBG melalui enam dimensi. Aspek yang diteliti meliputi stabilitas pangan, efisiensi anggaran, kemampuan menabung dan pengelolaan utang, ketahanan menghadapi guncangan ekonomi, alokasi waktu dan produktivitas, serta kesejahteraan psikologis.
Hasil penelitian menunjukkan, sebanyak 43,1 persen responden merasa lebih mudah memenuhi kebutuhan makan keluarga. Sementara itu, 42,2 persen responden mengaku merasakan penghematan setelah program MBG berjalan.
Meski demikian, manfaat tersebut belum sepenuhnya mendorong perubahan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Sebanyak 66,7 persen keluarga masih memberikan uang jajan anak dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.
Kemampuan menabung juga masih menjadi tantangan. Penelitian mencatat, keterbatasan kemampuan menabung masih dirasakan oleh 63,8 persen responden.
Perubahan dalam pengelolaan utang dan frekuensi berutang untuk memenuhi kebutuhan makan juga relatif kecil. Begitu pula dengan pemanfaatan waktu tambahan untuk kegiatan produktif.
Hampir separuh responden mengaku memiliki waktu tambahan setelah program MBG berjalan. Namun, sebagian besar waktu tersebut masih digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan domestik, belum banyak diarahkan pada kegiatan yang dapat meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga.
Secara keseluruhan, sebanyak 52,6 persen responden menilai dampak MBG terhadap ketahanan ekonomi keluarga masih rendah atau belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Menurut peneliti, besarnya manfaat ekonomi program ini sangat bergantung pada sejauh mana makanan yang disediakan menggantikan pengeluaran rumah tangga yang sebelumnya sudah ada.
Ketika makanan MBG dikonsumsi anak sebagai pengganti bekal atau uang jajan, rumah tangga berpeluang memiliki ruang anggaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Sebaliknya, apabila pengeluaran lama tetap dipertahankan, manfaat program cenderung terbatas pada penyangga konsumsi dalam jangka pendek. Kondisi ini sejalan dengan konsep consumption smoothing dan flypaper effect yang dibahas dalam penelitian tersebut.
Selain aspek ekonomi, kualitas pelaksanaan program juga menjadi perhatian penerima manfaat. Perbaikan kualitas makanan, rasa, variasi menu, serta keamanan pangan menjadi usulan yang paling banyak disampaikan responden.
Peneliti merekomendasikan Badan Gizi Nasional dan pemerintah daerah untuk memperkuat aspek-aspek tersebut agar manfaat program MBG tidak hanya dirasakan dalam pemenuhan konsumsi harian anak, tetapi juga dapat berkontribusi lebih efektif terhadap penguatan ketahanan ekonomi keluarga.
Temuan ini menunjukkan bahwa program MBG telah membantu sebagian keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan anak. Namun, penguatan manfaat ekonomi yang lebih luas masih membutuhkan perhatian terhadap kualitas makanan dan bagaimana penghematan pengeluaran dapat benar-benar dirasakan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. (Rilis)













































