JAMBI28TV – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi terus memperkuat kesiapsiagaan dan sinergi lintas sektor dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, kekeringan, dan ketersediaan air bersih.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Senin (31/08/2026).
Rakor dipimpin Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol, Danrem 042/Garuda Putih Jambi, para bupati dan wali kota se-Provinsi Jambi, BPBD, BNPB, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, Kejaksaan, dunia usaha, serta unsur terkait lainnya.
Wakil Wali Kota Jambi, Diza Hazra Aljosha, S.E., M.A., turut hadir mewakili Pemerintah Kota Jambi sekaligus menyampaikan kondisi terkini Kota Jambi dan langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam merespons dampak Karhutla dan kekeringan.
Dalam arahannya, Gubernur Jambi Al Haris menegaskan penanganan Karhutla saat ini menjadi perhatian serius seluruh pihak. Terlebih, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah mulai memburuk dan berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat.
“Alhamdulillah hari ini kami rapat koordinasi tentang pencegahan ataupun penanganan Karhutla di Provinsi Jambi. Kita mengetahui bahwa semua sudah bergerak luar biasa. TNI, Polri, Manggala Agni, Kehutanan, semua. Ada tim Gakkum juga sudah bergerak luar biasa,” ujar Al Haris.
Menurutnya, keseriusan penanganan Karhutla diperkuat dengan keterlibatan langsung unsur TNI di lapangan. Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol Mayjen TNI Arief Gajah Mada bersama jajaran turut melakukan peninjauan dan mendukung proses pemadaman maupun pendinginan titik api.
“Artinya adalah bahwa kita sudah sangat serius menangani Karhutla di Jambi ini. Karena ini adalah atensi Pak Presiden, bahwa kabut asap ditambah lagi dengan tingkat kesehatan udara yang sudah mulai sangat tidak baik untuk kita semua,” tegasnya.
Al Haris juga meminta seluruh tim meningkatkan upaya secara masif, mulai dari pencegahan, penanggulangan hingga pendinginan titik api. Hal ini dinilai penting mengingat sebagian wilayah Jambi merupakan lahan gambut yang memiliki potensi api kembali muncul apabila tidak dilakukan pemantauan dan pendinginan secara optimal.
“Semua tim harus masif bekerja lagi, baik dari pola penanggulangannya, metode pencegahannya, sampai kepada pendinginannya yang juga harus masif dilakukan,” jelasnya.
Gubernur juga meminta dukungan dan perhatian terhadap wilayah yang berbatasan langsung dengan Kota Jambi. Apabila terdapat kebakaran lahan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap wilayah Kota Jambi, penanganan harus dilakukan secara cepat dan bersama-sama.
“Daerah yang berbatas dengan Kota Jambi, tolong Kota Jambi dibantu jika ada kejadian kebakaran lahan,” tegas Al Haris.
Kota Jambi Terima Dampak Karhutla
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha menyampaikan bahwa meskipun berdasarkan data sementara Kota Jambi tidak tercatat memiliki luasan Karhutla, masyarakat tetap merasakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah sekitar.
Dampak tersebut terutama dirasakan melalui penurunan kualitas udara, peningkatan gangguan kesehatan, kekeringan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
“Kalau dari Karhutla kami kena efeknya. Tapi bukan berarti kami tidak mengalami dampak dari Karhutla,” jelas Diza.
Diza menjelaskan, kejadian kebakaran yang terjadi di dalam wilayah Kota Jambi lebih banyak berkaitan dengan pembakaran sampah dan kebakaran di kawasan permukiman.
Ia mencontohkan kejadian kebakaran di Kecamatan Telanaipura pada Senin sekitar pukul 11.00 WIB. Petugas berhasil melakukan pemadaman dalam waktu sekitar sembilan menit. Dugaan awal, kebakaran tersebut dipicu aktivitas pembakaran sampah.
“Ini sering terjadi. Tercatat 50 kejadian dari bulan Januari sampai sekarang Agustus, tetapi 40 di antaranya terjadi di bulan Agustus,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemkot Jambi karena terjadi di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap dan kondisi kekeringan yang turut meningkatkan kerentanan masyarakat.
Dari sisi kesehatan, Diza menyampaikan bahwa jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Jambi sempat mencapai 501 pasien pada 27 Agustus 2026.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan kasus ISPA, Pemkot Jambi bersama jajaran Forkopimda dan perangkat daerah melakukan inisiasi pemeriksaan kesehatan gratis di tingkat kecamatan.
“Per kecamatan sudah melakukan inisiasi cek kesehatan gratis untuk mengecek kondisi ISPA yang bertambah ataupun berkurang, untuk mendapatkan laporan yang valid,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Jambi dalam memperkuat perlindungan masyarakat di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik.














































